Jumat, 01 Oktober 2010

SINOPSIS CINDERELLA'S SISTER EPISODE 14

"Ayah, tidak bisakah kau merelakan segalanya?" tanya Ki Hoon pada ayahnya. "Mungkin saja itu adalah cara yang lebih mudah dibandingkan mencoba meraihnya. Akan lebih baik jika kau meninggalkan segalanya. Jika ayah melakukannya, maka aku akan menutupi semua kesalahan ayah dan kakak. Aku akan mengatakan bahwa semuanya kesalahanku dan bertanggung jawab. Setelah aku membantu Perusahaan Anggur Dae Sung agar tumbuh seperti sebelumnya, aku akan mengabdi dan hidup denganmu di sebuah rumah kecil. Kita bisa bermain dan memancing bersama. Jika gadis itu bisa memaafkan aku... Aku akan berlutut padanya dan membawanya sebagai menantumu. kami akan bekerja bersama untuk memberimu tunjangan. Jika kami memiliki bayi, kau akan menjaga bayi kami. Aku ingin hidup seperti itu. Ayah, bisakah kau melakukan itu dan merelakan segalanya? Jawab aku! Bisakah kau melakukannya?!"
Presiden Hong diam.
"Jika kau jatuh pingsan karena aku mengatakan tidak mau mengakuimu sebagai ayahku, maka artinya kau juga tidak ingin kehilangan aku." ujar Ki Hoon. "Bukankah begitu, Ayah?!"
"Aku tidak bisa merelakan semuanya." kata Presiden Hong. "Aku tidak akan melepaskannya. Aku tidak akan mengganggumu. Jadi mulai saat ini, jangan menggangguku. Tapi, walaupun aku tidak mengganggumu, Ki Jung berbeda. Ia akan mengganggumu, Kau membutuhkan aku."
Ki Hoon keluar dan menangis di tangga darurat.
Malam itu, Hyo Seon datang ke kemar Kang Sook. Dengan takut-takut, Hyo Seon bersandar di punggung Kang Sook.
"Apa aku seharusnya tidak bersandar padamu?" tanya Hyo Seon, bangkit.
"Kau bisa bersandar padaku." ujar Kang Sook.
"Aku... ditolak... secara resmi." kata Hyo Seon seraya bersandar pada punggung Kang Sook. "Aku memiliki seorang pria yang kusukai. Kau tidak tahu, bukan?" Hyo Seon menahan tangis. "Orang itu.. menolakku..."
Kang Sook hanya diam, mendengarkan.
Hyo Seon bangkit dan pergi meninggalkan ruangan.
Jung Woo berlari ke tempat Jang dan Eun Jo segera setelah Jang meneleponnya. Disana, Eun Jo sedang berbaring dalam mobil.
"Aku akan pergi." kata Jang, beranjak pergi.
"Apa kaupunya tempat untuk pergi?" tanya Jung Woo.
Jang mengangguk.
Jung Woo mengejar dan memberikan sejumlah uang pada Jang.
"Tidak perlu!" seru Jang, menolak.
Tapi Jung Woo memaksa. "Jika kau lapar, hubungi aku, jangan hubungi ibu Eun Jo." katanya. "Jangan datang, tapi aku yang akan ke sana."
Eun Jo dan Jung Woo tiba di rumah.
Eun Jo masuk ke rumah dan mengintip kamar ibunya. Kang Sook sedang duduk diam tak bergerak.
Eun Jo kemudian masuk menuju kamarnya. Hyo Seon ada disana, menunggunya pulang.
"Kakak, maukah kau bermain denganku?" tanya Hyo Seon.
"Kenapa?"
"Aku... dicampakkan oleh orang yang kusukai..." jawab Hyo Seon. "Aku... ditolak. Maukah kau bermain denganku?"
Eun Jo diam.
"Kakak, hatiku seperti terkoyak-koyak." kata Hyo Seon dengan mata berkaca-kaca.
"Kau bilang kau akan menjaganya!" seru Eun Jo pada Ki Hoon. "Kenapa kau menolaknya seperti ini? Dengan semua hal yang terjadi dalam hidupnya, bagaimana mungkin kau menolaknya?! Apa kau tahu orang seperti apa dia? Walaupun ibu tidak berada dipihaknya dan selalu jahat padanya, ia tetap berpikir ia beruntung karena memiliki ibu dan kakak seperti ini. Ia hanya melihat pada satu orang dan menyukai orang itu. Dan orang itu malah menolaknya?"
"Kau sudah selesai?" tanya Ki Hoon. "Dengan semua kata-kata tak berguna itu?"
"Apa?"
"Untuk seorang gadis seumurnya, hanya karena ia menyukaiku, lalu aku berkewajiban untuk menerimanya apapun yang terjadi?" tanya Ki Hoon datar. "Apa perasaanku tidak bisa bicara? Kenapa? Apa karena aku berhutang budi pada ayahnya, lalu aku harus menerima perasaannya? Apa kau membayar hutangmu dengan cara seperti itu?!"
"Tapi kenapa harus disaat seperti ini?!" seru Eun Jo.
"Tunggu!" kata Ki Hoon. "Apa ini yang sebenarnya? Apakah benar ini yang ingin kau katakan padaku? Jika aku mengatakan, 'Ya, aku salah. Aku akan menerima Hyo Seon'. Apa yang akan kaulakukan? Apa kau ingin aku mengatakan itu? apakah benar ini yang kau rasakan?"
"Lalu apa perasaanku yang sebenarnya?" tanya Eun Jo.
"Kau tahu perasaanmu."
"Apa?"
"Kau... padaku..." Ki Hoon menarik tangan Eun Jo. "Katakan sekali lagi. Jika kau mengatakannya lagi, maka keinginanku untuk meninggalkan segalanya, akan menjadi jelas lagi. Semua hutangku pada paman, semua kesalahanku, aku akan meninggalkan semuanya. Kau saja sudah cukup. Jika aku bisa memilikimu, aku melupakan masa laluku dan melanjutkan hidup." Ki Hoon menangis. "Apakah semua kata-katamu mengenai Hyo Seon... adalah perasaanmu yang sesungguhnya?"
Eun Jo diam, menangis.
Ki Hoon memeluknya. "Tidak mungkin, Eun Jo." katanya. "Ini sudah terlambat. Aku tidak bisa. Aku juga mengerti bahwa kau tidak bisa."
Eun Jo melepaskan diri dari pelukan Ki Hoon. "Hyo Seon... tolong pikirkan dia." katanya. "Jika ia akan lebih kesepian lagi, aku tahan melihatnya."
Eun Jo pergi dengan menangis.
Ki Hoon berdiri diam.
Jung Woo mengantar Eun Jo bandara untuk pergi membuat ragi dengan alat yang mereka sewa di Jepang.
Setelah Eun Jo pergi, Hyo Seon berbalik dan melewati Ki Hoon dengan kaku, hendak masuk ke dalam rumah.
"Kita harus melakukan banyak hal." kata Ki Hoon. "Saat Eun Jo ada di Jepang, kau harus menyelesaikan segalanya disini."
"Ya." kata Hyo Seon. "Pergilah terlebih dulu. Aku harus mengurus beberapa hal disini terlebih dulu."

Eun Jo menelepon Dong Soo untuk menanyakan mengenai hal yang ia minta.
"Kapan kau akan kembali?" tanya Jung Woo.
Tapi Eun Jo tidak mendengar. pikirannya melayang memikirkan tadi malam bersama Ki Hoon.
Empat orang wanita datang ke rumah Hyo Seon sambil marah-marah. Rupanya Heojin-lah yang menyuruh mereka datang.
"Ada apa, Bibi?" tanya Kang Sook.
"Keluar dari rumah ini." kata Bibi.
"Apa maksudmu?"
"Kau berselingkuh di belakang ayah Hyo Seon selama 8 tahun!" seru Bibi marah. "Karena kau sudah melahirkan Joon Soo, maka aku akan menyimpan rahasia ini dari Hyo Seon. Seharusnya kau berterima kasih padaku karena ini dan keluar dari rumah ini secepatnya!"
"Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu." kata Kang Sook.
Bibi menangis. "Keponakanku yang malang!" tangisnya. "Kasihan Dae Sung harus pergi seperti ini!"
Kang Sook mengelak. "Apa kau punya bukti bahwa aku berselingkuh?!" serunya marah. "Siapa yang menyebar gosip mengenai wanita yang tidak bersalah?!"
Bibi-bibi sangat marah. Ia menjambak rambut Kang Sook dan memukulinya habis-habisan.
Kang Sook menelepon seseorang sambil menangis-nangis, mengadi bahwa Bibi Choi Kyung Suk menghajarnya habis-habisan.
Setelah itu, ia menelepon kakek Hyo Seon dan menangis-nangis.

Disisi lain, Paman Hyo Seon menelepon seseorang dan menyebarkan gosip bahwa Eun Jo dan Jung Woo merencanakan sesuatu yang tidak baik. "Aku mendengarnya dengan jelas." katanya.
"Apa yang mereka katakan?" tanya Kang Sook, mendadak muncul di belakang Heojin. "Jadi ini semua, kau yang memulainya? Paman Hyo Seon, apa kau suka jika aku keluar dari rumah ini? Apa kau tahu siapa aku? Walaupun jika semua itu memang benar, kau tidak punya hak melakukan ini. Orang yang bisa mengusirku dari sini bukan kau. Jika ayah Hyo Seon bangkit dari kubur dan memintaku pergi, maka aku akan pergi. Hanya dia yang bisa mengusirku, bukan orang lain. Kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini."
Paman pensupply beras datang ke Perusahaan Dae Sung.
"Paman!" seru Hyo Seon. "Kenapa kau datang tanpa pemberitahuan?"
Paman itu menelepon seseorang. "Kenapa kau sangat terlambat?" omelnya.
Setelah paman menutup telepon, ia bicara dengan Hyo Seon. "Kupikir berasnya akan datang kemari lebih dulu, ternyata aku datang lebih cepat daripada beras. Bagaimana ini bisa terjadi, Hyo Seon?"
"Beras?" tanya Hyo Seon bingung.
Tapi paman itu terus saja mengomel mengenai kemalasan para pekerjanya. Ia kemudian keluar dari ruangan. Hyo Seon dan Ki Hoon mengejarnya.
"Paman, terima kasih." ujar Hyo Seon membungkuk pada paman.
"Jika berasnya datang, terimalah dengan baik." kata paman.
Hyo Seon sangat terharu.
"Ini semua berkat kau, Hyo Seon." ujar Ki Hoon.
"Jangan lakukan itu." kata Hyo Seon datar. Ia meminta Ki Hoon agar tidak bersikap terlalu baik padanya.
Hyo Seon kemudian mengirim sms pada Eun Jo. Ia mengatakan bahwa masalah beras sudah selesai. Jika Eun Jo punya waktu luang, Hyo Seon memintanya menelpon.
Tidak lama kemudian, sebuah surat masuk ke email Hyo Seon. Ia membacanya.

Disisi lain, Ki Hoon mendapat pesan yang sama. Pesan tersebut dikirim oleh Eun Jo. Eun Jo mengatakan bahwa ia telah menyelesaikan masalah ragi dan akan pergi ke laboratorium. "Mesin itu menyelesaikan semua masalah kita dengan penggunaan ragi." katanya. "Aku akan segera tiba disana dengan berita bagus. Dan, mengenai nama ragi ini. Aku ingin tetap memberinya nama Dae Sung, aku ingin mendengar pendapat Hyo Seon. Balas secepatnya."
Hyo Seon pulang ke rumah untuk memberitahukan kabar baik ini pada Kang Sook. Ia masuk ke kamar Kang Sook namun Kang Sook tidak ada disana.
Hyo Seon meraih foto pernikahan Dae Sung dan Kang Sook. "Ayah." katanya. "Kakak berhasil melakukannya. Dia tidak menamai ragi itu dengan namanya. Ia mengatakan akan memberikan namamu pada ragi itu. Kau tidak suka? Jika kau tidak suka, katakan padaku. Aku akan meminta Eun Jo memberi nama ragi itu dengan namanya." Hyo Seon menangis dan memeluk foto Dae Sung. "Kau suka bukan? Aku juga suka."
Hyo Seon pergi menemui Dong Soo dan menceritakan segalanya mengenai keberhasilan Eun Jo membuat ragi. Dong Soo mencatat setiap kata-kata Hyo Seon di laptop.
"Nama ragi itu adalah Dae Sung Sakarumarisis." kata Hyo Seon. "Tapi, Dong Soo, tidakkah kau terlalu banyak menerbitkan artikel mengenai kami?"
"Aku tidak menerbitkannya di majalah." jawab Dong Soo. "Aku menerbitkannya di blogku. Kapan Eun Jo akan kembali? Jika ia kembali, aku juga ingin mewawancarainya. Menurut pendapatku, blogku lebih populer dibandingkan dengan majalah. Aku ingin memasukkan beberapa gambar di blog. Kau boleh pergi sekarang. Lain kali, datanglah bersama Eun Jo."
Hyo Seon pulang ke Perusahaan. Di sana, ada banyak orang yang datang dan berteriak histeris, "Kami mencintaimu, Goo Hyo Seon!!" Layaknya fans yang menemui artis idolanya. Mereka memotret-motret Hyo Seon.
Hyo Seon bingung.
"Mereka adalah anggota internet fan club." kata Ki Hoon menjelaskan. "Mereka datang setelah melihat iklan dan membaca artikel dan blog Dong Soo. Kau menjadi bintang."

Ki Hoon menelepon Eun Jo. Sepertinya kesehatan Eun Jo sedang buruk.
"Apa kau sudah melihat mesin itu?" tanya Eun Jo.
"Aku baru akan melihatnya."
Ki Jung bicara dengan salah satu anak buah perusahaannya.
"Aku sudah mengatakan pada mereka bahwa kita akan menjual anggur dengan harga yang lebih murah daripada Anggur Dae Sung."
"Lalu, apa yang mereka katakan?" tanya Ki Jung.
"Karena mereka sudah menekan kontrak dengan Perusahaan Anggur Dae Sung, jadi itu mustahil tapi..."
"Tapi apa?" tanya Ki Jung lagi.
"Mereka meminta waktu untuk berpikir."
Malam itu, Joon Soo datang ke kamar Hyo Seon untuk tidur bersamanya. "Ibu berbau alkohol." keluh Joon Soo.
Hyo Seon bergegas pergi ke kamar Kang Sook. "Ibu, kenapa kau minum alkohol?" tanyanya.
"Aku tidak tahu orang seperti apa aku ini." kata Kang Sook. "'Hal yang paling kutakutkan adalah... jika aku harus melanjutkan hidup tanpanya'... ayahmu mengatakan itu. Aku membacanya lagi dan lagi sampai airmataku berhenti."
Hyo Seon memeluk Kang Sook.
"Apa kau adalah putrinya?" tanya Kang Sook. Hyo Seon mengiyakan. "Apakah kau putri pria bodoh itu? Jika ia tahu betapa menakutkan hidup tanpa aku, lalu kenapa dia meninggalkan aku? Membuatku hidup tanpa dia?"
Hyo Seon mengangkat tangan Kang Sook ke rambutnya. Kang Sook diam sejenak kemudian membelai kepala Hyo Seon dan menangis.
Eun Jo akhirnya pulang ke Korea. Wajahnya terlihat sangat pucat.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit." kata Jung Woo.
"Pergi ke perusahaan." pinta Eun Jo tegas.
Sesampainya disana, Eun Jo mendengar Ki Hoon bicara ditelepon. "Apa maksudmu?" tanyanya. "Kau tidak memberiku penjelasan yang masuk akal! Halo? Halo?"
Orang diseberang saluran memutus telepon.
"Ada apa?" tanya Eun Jo.
"Mereka mengatakan akan membatalkan kontrak penyewaan alat." kata Ki Hoon. "Juga kontrak pemesanan."
"Apa maksudmu?" tanya Eun Jo. "Sampai aku pergi, kau berjanji..." Mendadak Eun Jo batuk-batuk parah.
Hyo Seon mendekatinya. "Ada apa?" tanyanya cemas. Eun Jo pingsan. "Kakak! Kakak!"
Ki Hoon menggendong Eun Jo dan membawanya ke mobil. Ia mendorong Jung Woo dan mengemudikan mobilnya pergi.
Jung Woo dan Hyo Seon menatap kepergian mereka dengan cemas.
Hyo Seon masuk lagi ke kantor dan menelepon seseorang dengan menggunakan bahasa Jepang.
"Halo. Ini Perusahaan Anggur Dae Sung." katanya. "Mengenai pembatalan kontrak, aku ingin mendengar penjelasan."
Jung Woo menatap Hyo Seon.

Eun Jo meminta agar Ki Hoon membawanya kembali ke perusahaan. Tapi, dengan berteriak marah, Ki Hoon menyuruhnya diam dan berbaring.
Hyo Seon menemui Hong Ki Jung.
"Aku tidak punya banyak waktu." kata Ki Jung. "Tolong dipercepat."
"Apakah kau orang yang membuat perjanjian dengan perusahaan Jepang..." tanya Hyo Seon, namun Ki Jung menyuruhnya diam.
"Aku tidak datang untuk bicara dengan seorang anak kecil." kata Ki Jung mengejek. "Apa hubungan antara kontramu dengan kontrak kami? Orang yang memilih salah satu dari kita adalah pembuat kontrak. Apakah kau datang untuk membicarakan 'fair play'? Tidak peduli bagaimana kau mendapatkan kontrak itu, tapi ini adalah kontrak yang sulit juga untuk kami. Aku berhasil mendapatkan kesepekatan. Jika kau kecewa, itu masalahmu, bukan masalahku."
Hyo Seon terlihat kesal.
Ki Jung tersenyum sinis. "Kau putri tertua atau putri termuda?" tanyanya. "Apakah kau yang berhasil menemukan cara baru fermentasi ragi?"
"Kenapa kau ingin tahu?"
"Jika kau memang orang itu, ada sesuatu yang ingin kukatakan." ujar Ki Jung.
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Apakah kau orang yang menemukan ragi?" tanya Ki Jung lagi.
"Bukan."
"Kalau begitu, kau pasti putri termuda." ujar Ki Jung. "Tolong katakan pada kakakmu bahwa aku ingin bertemu dengannya. Kupikir hari ini yang akan datang adalah putri tertua. Jika aku tahu yang datang hanya anak kecil, aku tidak akan mau menemuinya."
Hyo Seon kembali ke rumahnya saat hari sudah gelap. Ki Hoon mengatakan padanya bahwa Eun Jo sudah bersedia dirawat di rumah sakit selama sehari.
"Sekarang ibumu ada di rumah sakit. Ia menyuruhmu menjaga Joon Soo." kata Ki Hoon.
"Perusahaan Hong." kata Hyo Seon datar. "Mereka lebih memilih menekan kontrak dengan Perusahaan Hong dibandingkan dengan kita."
"Darimana kau tahu?" tanya Ki Hoon.
"Maksudmu, kau sudah tahu?" tanya Hyo Seon, bingung. "Kenapa Perusahaan Hong memperlakukan kita seperti ini? Mereka bukan perusahaan yang akan bermain-main seperti ini. Aku yakin alasan mereka mencari masalah dengan kita bukan untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Pengemis seperti dia... ia pikir aku akan membiarkannya begitu saja? Besok, aku akan bertemu dengan Dong Soo. Dengan semua kekuatanku, aku tidak akan melepaskan mereka."
"Pengemis?"
"Presiden Perusahaan Hong." jawab Hyo Seon. "Aku bertemu dengan Hong Ki Jung."
"Kau bertemu dengannya?"
"Aku tidak akan pernah melepaskannya." kata Hyo Seon penuh kemarahan.
Hyo Seon masuk ke dalam rumah untuk menengok adiknya. Ia merapikan semua mainan Joon Soo. Di samping tempat tidur, ada piring kotor bekas makan Joon Soo. Hyo Seon merapikannya.
Tanpa sengaja, Hyo Seon melihat jurnal milik Dae Sung yang terbuka.
"Ah. tulisan ayah!" seru Hyo Seon. Ia membacanya.
Keesokkan harinya, Jung Woo mengantar Eun Jo dan Kang Sook pulang ke rumah.
Kang Sook menanyakan pada Eun Jo, "Jika tiba-tiba nanti malam kita diusir dari rumah ini, apa yang akan kau lakukan?" Sepertinya Kang Sook sengaja membuat jurnal Dae Sung terbuka agar Hyo Seon membacanya.
Eun Jo menjawab, jika kontrak ini tidak berjalan lancar sesuai rencana, maka walaupun tanpa disuruh, mereka harus pergi sendiri dari rumah itu.
Kang Sook masuk ke kamarnya. Disana, ia melihat Hyo Seon duduk membaca semua jurnal ayahnya. Ia menoleh ke atah Kang Sook dengan pandangan marah.

SINOPSIS CINDERELLA'S SISTER EPISODE 13

Eun Jo bekerja hingga larut malam untuk menguji anggur-anggur yang dibuatnya. Ia mengujinya satu per satu sendiri hingga tanpa terasa ia mabuk.
Sementara itu, di luar, perasaan Ki Hoon tak karuan. Ia berjalan perlan menuju gerang rumah dan menggedor-gedor dengan keras. "Buka pintu! Buka pintu, Eun Jo! Eun Jo! Eun Jo!!!"
Dalam keadaan mabuk, Eun Jo berjalan keluar karena mendengar seseorang memanggilnya.
Di luar, ia melihat Jung Woo sedang memapah Ki Hoon masuk ke dalam rumah.
"Ada apa?" tanya Eun Jo pada Jung Woo, menunjuk Ki Hoon.
"Dia mabuk." jawab Jung Woo. "Apa kau mabuk juga?"
Eun Jo menggeleng.
Eun Jo berjalan masuk ke dalam rumah, namun tidak lama kemudian ia kembali lagi.
"Jung Woo." panggil Eun Jo di depan kamar Jung Woo dan Ki Hoon. "Jika kau belum tidur, keluarlah.
Jung Woo keluar dengan kesal. Ia melihat Eun Jo membawakan sesuatu untuknya.
"Minum ini sebelum tidur." kata Eun Jo seraya memberikan minuman untuk Jung Woo. "Berikan dia minuman ini juga." Ia berjalan pergi.
"Kakak." panggil Jung Woo, meletakkan minuman di lantai. "Aku ingin menanyakan sesuatu. Apa yang kau sukai darinya?"
"Apa?"
"Kenapa kau menyukainya?" tanya Jung Woo lagi.
"Omong kosong." kata Eun Jo, mabuk.
"Jika kau tidak menyukainya, kenapa kau membuatkan air dengan madu saat ia mabuk?" tanya Jung Woo, menuntut.
"Aku sudah bilang padamu agar tidak mencari gara-gara denganku." kata Eun Jo.
Jung Woo kesal dan menarik Eun Jo keluar dengan kasar.
"Sakit." keluh Eun Jo. "Sakit. Lepaskan aku. Lepas..."
Jung Woo menatap Eun Jo, teringat saat ia membukakan pintu untuk Ki Hoon.
"Ada apa?" tanya Jung Woo. "Apa kau mabuk?"
"Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu." kata Ki Hoon. "Aku harus mengatakannya lebih dulu."
"Ya, katakan padaku." kata Jung Woo, memapah Ki Hoon masuk. "Tapi masuk dulu."
"Eun Jo..." gumam Ki Hoon, setengah sadar. "Aku ingin mengatakan sesuatu. Sebelum Kakakku memiliki Dae Sung, aku ingin memilikinya terlebih dulu. Jika aku berhasil memilikinya, aku ingin mengembalikannya lagi pada paman." Ki Hoon menangis. "Paman... meninggal karena aku... Setelah mendengar aku menelepon kakakku, dia pingsan. Sebelum Hong Han Suk, Presiden Perusahaan Hong, menemuimu... Aku ingin memberitahukan padamu apa yang terjadi lebih dulu."
"Jung Woo, kenapa kau sangat marah?" tanya Eun Jo.
"Apa yang kau sukai darinya?" tanya Jung Woo lagi. "Orang itu... apa kau tahu seperti apa dia? Apa kau menyukainya tanpa mengetahui siapa dia? Walaupun ia terlihat baik, tapi ia hanyalah bajingan. Berhenti menyukainya..."
"Jangan bicara seperti itu..." kata Eun Jo. "Siapa kau? Kau tidak tahu apapun! Jangan seperti itu, Jung Woo. Orang itu... aku merasa buruk jika melihatnya dan aku juga merasa buruk walau tidak melihatnya. Aku merasa buruk jika dia tidak ada disini dan merasa buruk jika dia tidak ada disini. Aku merasa buruk jika ia tersenyum padaku... Jika ia tersenyum pada orang lain, aku juga merasa buruk. Jika ia menyebut namaku, aku merasa sakit... Dan saat ia tidak menyebut namaku, aku juga merasa sakit. Akhirnya aku bisa merasa lebih baik... Merasa sakit... karena melihatnya... masih lebih baik dibandingkan tidak ada dia didekatku."
Eun Jo menghapus air matanya. "Hey, Anak Kecil... kau bisa mendengar ucapanku... kau sudah dewasa, Jung Woo-ku..."
Mata Jung Woo berkaca-kaca.
Eun Jo melambaikan tangannya pada Jung Woo dan kembali ke rumah.
Semalaman itu, Jung Woo tidak tidur.
Ketika Ki Hoon terbangun keesokkan harinya, Jung Woo duduk tepat di depannya.
"Kau sudah selesai tidur?" tanya Jung Woo. "Ayo kita bicara."
Ki Hoon terdengar acuh dan bangkit.
"Ayo kita bicara!" teriak Jung Woo.
"Semua yang kudengar kemarin malam, jangan sampai kau mengatakannya pada Kakak." kata Jung Woo.
Dengan acuh, Ki Hoon hendak beranjak pergi meninggalkan Jung Woo.
Jung Woo menarik lengan Ki Hoon. "Kenapa kau tidak menjawabku?"
"Aku akan mengatakan padanya." jawab Ki Hoon datar.
Jung Woo menghalangi jalan Ki Hoon. "Apa katamu?! Kau akan mengatakan padanya?!"
Ki Hoon berjalan maju, Jung Woo kehilangan kesabaran dan memukul Ki Hoon.
"Aku tidak peduli jika dia tahu." kata Jung Woo. "Tapi kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu padanya dengan mulutmu sendiri."
"Aku akan mengatakan padanya." kata Ki Hoon. "Minggir!"
"Jika kau mengatakan itu padanya, Kakakku tidak akan bisa bernapas." larang Jung Woo. "Hanya untuk membuatmu lebih baik, kau ingin mengeluarkan semua yang ada dalam hatimu pada kakak? Lalu bagaimana dengan Kakak?"
"Dia pasti akan tahu, dan aku tidak boleh membiarkan ia tahu dari orang lain." ujar Ki Hoon bersikeras. "Kau! Tutup mulutmu! Aku yang akan memberitahunya!"
"Apa kau ingin membunuh Eun Jo?!" bentak Jung Woo. "Jika kau mengatakan padanya, kaulah satu-satunya orang yang akan hidup."
"Diam."
"Ia akan merasa sakit, saat melihatmu atau tidak melihatmu." kata Jung Woo. "Tapi, ia tetap saja berkata bahwa merasa sakit karena melihatmu lebih baik. Dia mengatakan masih lebih baik jika melihatmu!"
Ki Hoon diam.
"Karena melakukan kesalahan, kau ingin dihukum, bukan?" tanya Jung Woo. "Kalau begitu, hukumanmu adalah tidak memberitahu apapun padanya selamanya. Jangan pernah berpikir untuk mengaku pada Eun Jo."
Jung Woo pergi.
Ki Hoon berpikir sejenak, kemudian berlari ke rumah mencari Eun Jo. Di gerbang, ia berpapasan dnegan Hyo Seon yang hendak mengantar Joon Soo menunggu bus sekolah.
"Dimana Eun Jo?" tanya Ki Hoon.
"Kakak pergi ke suatu tempat." jawab Hyo Seon.
"Kemana? Perusahaan? Pabrik?"
"Ia pergi ke... laboratorium!" jawab Hyo Seon.
Ki Hoon bergegas pergi ke lab, tapi Eun Jo sudah tidak ada disana.
Hyo Seon menelepon Eun Jo.
"Kau ada dimana?" tanya Hyo Seon.
"Aku ingin pergi ke suatu tempat." jawab Eun Jo. "Kenapa?"
"Kau mai pergi kemana?" tanya Hyo Seon.
"Salah satu mesin di lab rusak dan aku ingin memperbaikinya." jawab Eun Jo. "Aku tidak ingin menunggu lama, jadi aku pergi memperbaikinya sendiri. Kenapa kau bertanya?"
"Kakak, aku ingin mengatakan padamu sesuatu sekarang." kata Hyo Seon. "Bisakah kau datang kemari?"
"Apa kau tidak bisa bicara ditelepon?"
"Akan lebih baik jika kau datang kemari." ujar Hyo Seon. "Aku akan menunggumu di rumah."
Eun Jo memutar balik mobilnya. Tidak lama kemudian, Ki Hoon menelepon.
"Aku ada di sekolah sekarang." kata Ki Hoon. "Lewat mana jalur terdekat untuk sampai ke tempatmu? Aku akan mengatakan semuanya padamu sekarang, jika tidak, mungkin aku tidak akan pernah bisa memberitahumu selamanya. Si brengsek itu melarangku mengatakan padamu, tapi aku ingin mengatakannya, Eun Jo."
Ki Hoon menelepon ayahnya untuk memperingatkan. Ki Hoon rela kehilangan semua haknya di Perusahaan Hong. Saham, uang, bahkan Ki Hoon rela kehilangan hak sebagai anak Presiden Hong. Jika ayahnya berani mendekati Perusahaan Anggur Dae Sung, maka ia akan memberikan artikel mengenai ayahnya dan Ki Jung ke surat kabar. Ia akan mengatakan pada surat kabar mengenai apa yang dilakukan Ki Jung pada Perusahaan Anggur Dae Sung.

Ki Hoon tiba di rumah. Baru saja ia sampai di depan gerbang, sebuah mobil melaju ke dekatnya.
"Hatiku merasa tidak tenang." kata Hyo Seon. "Kak Ki Hoon mencarimu. Kelihatannya ia mencarimu bukan untuk urusan pekerjaan. Kenyataan bahwa aku tidak mengetahui apapun... membuatku takut dan aku tidak menyukainya. Aku juga merasa malu. Tapi ketidaktahuanku lebih menggangguku ketimbang rasa malu. Kenapa Kak Ki Hoon mencari Kakak seperti itu? Dengan ekpresi wajah tersiksa?"
"Kita bisa pergi bersama." kata Eun Jo. "Jika hatimu merasa tidak tenang, ikutlah bersamaku."
"Kakak, aku merasa sangat malu." ujar Hyo Seon.

Hyo Seon ikut ke lab bersama Eun Jo dan menjadi asistennya.
Ki Tae menunjukkan poster Hyo Seon pada Ki Hoon.
"Ki Hoon, kumohon sekali ini saja." kata Ki Tae, memohon. "Sekali ini saja. Bantu aku bertemu dengannya. Atur saja waktunya, aku akan mengatur sisanya. Tolonglah.. Aku benar-benar menyukai gadis ini..."
Ki Hoon menunduk, memegang pelipisnya. Pusing melihat tingkah kakaknya itu.
Ki Tae menarik napas dalam. "Apa kau tahu artinya cinta pada pandangan pertama?" tanyanya.
Telepon Ki Tae berdering. Ki Tae hanya diam, menatap Ki Hoon dengan ekspresi memohon.
"Angkat teleponmu." kata Ki Hoon.
"Hah? Oh!" Ki Tae baru sadar dan buru-buru mengangkat teleponnya. Ki Tae bicara di telepon dan mendadak berteriak, "Kenapa ayahku pingsan?!" serunya. Ki Tae menutup telepon dan menatap Ki Hoon. "Kau.. apa kau menelepon ayah?"
"Apa maksudmu?"
"Setelah menutup telepon darimu, mereka bilang ayah pergi ke toilet dan pingsan." kata Ki Tae.
"Apa?!"
Dong Soo memanggil Eun Jo dan Hyo Seon ke restorannya.
"Lomba minum anggur?" tanya Hyo Seon.
"Ya." ujar Dong Soo. "Kalian berdua adalah kontestan otomatis. Kalian harus ada disana."
"Tolong jelaskan." pinta Hyo Seon. Tapi Dong Soo terburu-buru dan mengatakan akan mengirim penjelasannya lewat pesan, kemudian beranjak pergi.
Hyo Seon bingung. "Kakak, apakah dulu dia begitu?" tanyanya. "Tidakkah ia sedikit aneh?"
Eun Jo berpikir sejenak dan memanggil Dong Soo. "Kim Dong Soo." panggilnya. "Bisakah kau melihat sesuatu untukku? Bisakah kau mencari tahu siapa yang menyebabkan skandal Jepang pada bisnis kami?"
Ki Hoon dan Ki Tae menjenguk Presiden Hong di rumah sakit. Tidak lama kemudian Ki Jung datang.
"Baguslah ia dibawa kemari dengan cepat." kata Ki Jung. "Aku hampir saja melewatkan rapat penting karena hal ini." Ia beranjak pergi, tapi Ki Tae memanggil.
"Tunggu!" panggil Ki Tae. "Karena hal ini, kau hampir melewatkan sesuatu? Apa pantas kata-kata seperti itu keluar dari mulutmu pada situasi seperti ini?"
"Pelankan suaramu." ujar Ki Jung.
"Kau pikir, siapa yang menyebabkan ayah pingsan?!" seru Ki Tae. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau dan ibumu bekerja sama mencari cara untuk mengeluarkan ayah dari bisnis Anggur Hong."
"Pelankan suaramu. Kau sedang berada dekat pasien."
"Pasien?" tanya Ki Tae tajam. "Apa bagimu ayah hanyalah pasien biasa?!"
Ibu Ki Jung datang. "Kenapa kalian berteriak?" tanyanya.
Ki Tae menahan tangis. "Semua ini tidak berguna." katanya seraya berjalan pergi.
Ki Jung dan ibunya bicara mengenai pembicaraan dengan Pengacara Kim menyangkut saham perusahaan. Ibu Ki Jung ingin menyelesaikan masalah tersebut secepat mungkin. Tapi karena kondisi Presiden Hong tidak memungkinkan, Ki Jung meminta ibunya bersabar sedikit lebih lama.
Ki Hoon hanya bisa bersabar dan diam mendengar pembicaraan mereka.
"Ayah, ada apa dengan semua ini?" tanya Ki Hoon ketika Ki Jung dan ibunya sudah pergi. "Apa selama ini, kau hidup seperti itu?"
Jang Taek Geun mengaku-ngaku bahwa Kang Sook adalah saudaranya. Ia mengatakan pada seorang pria agar meminta uang ke rumah Kang Sook.
Kang Sook terlihat ketakutan. Dari jauh, ia melihat mobil Eun Jo datang.
"Aku mengerti." kata Kang Sook pada pria itu. "Cepat pergi. Aku akan mengurus semua ini, jadi cepat pergi."
Diam-diam Heojin menguping pembicaraan mereka.
Hyo Seon melihat pria itu pergi. "Kakak, apakah ibu memiliki saudara bernama Jang Taek Geun?"
"Apa katamu?"
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Eun Jo pada ibunya. "Bagaimana jika Hyo Seon tahu?"
"Bagaimana ia bisa tahu?" tanya Kang Sook. "Aku akan mengurusnya. Jangan cemas."
Eun Jo keluar dan berpapasan dengan Hyo Seon yang hendak mengucapkan selamat malam pada Kang Sook.
"Ibu sedang dalam kondisi tidak baik dan moodnya sedang buruk." kata Eun Jo padanya. "Jika kau masuk, ia tidak akan suka. Hyo Seon, aku ingin kau melakukan sesuatu."
Eun Jo meminta tolong pada Hyo Seon untuk menghubungi Ki Hoon. Ia ingin memberitahu Ki Hoon untuk segera menyewa mesin. Tapi seharian Eun Jo tidak bisa menghubunginya.
Eun Jo mencari Jung Woo dan meminta bantuannya untuk pergi ke suatu tempat besok pagi. "Jika kita tidak memberikan uangnya pada mereka, mereka akan terus mengganggu kita."
"Jangan cemas." kata Jung Woo menenangkan. "Aku akan mengurus segalanya. Percayalah padaku. Aku tidak akan membiarkan mereka mendekati rumah ini."
"Tidak, aku akan pergi denganmu." ujar Eun Jo, berubah pikiran. "Aku harus bertemu dengan Paman Jang dan mengatakan sesuatu yang penting padanya."
Jung Woo terlihat cemas. "Kakak, tidak ada apa-apa yang terjadi hari ini, bukan?"
Eun Jo terlihat bingung, itu artinya tidak terjadi apa-apa.
Tanpa mereka sadari, Heojin mencuri dengar pembicaraan mereka.
Eun Jo datang ke kamar ibunya untuk meminta jumlah uang yang diminta pria di gerbang tadi.
Dengan kesal dan sangat terpaksa, Kang Sook membuka lemari untuk mencari buku rekeningnya.
Di sudut lemari, ia menemukan beberapa tumpuk jurnal. Kang Sook mengambil dan membacanya. Ternyata itu adalah buku harian Dae Sung.
"Seseorang datang padaku." ujar Dae Sung dalam jurnalnya. "Seperti angin di musim semi. Ada bau bunga yang terbawa hembusan angin. Seperti tergiur oleh bunga, aku tergoda olehnya. Aku berjanji akan menjaganya selamanya. Aku berjanji tidak akan pernah membuatnya menangis lagi. Aku menjanjikan banyak hal. Orang yang bodoh selalu seperti itu."
Kang Sook menutup jurnal itu dan mengeluarkan beberapa jurnal yang lain.
Hyo Seon menunggu Ki Hoon pulang.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Ki Hoon pulang dengan lemas dan sedih.
"Apa yang terjadi?" tanya Hyo Seon, memeluk Ki Hoon untuk menenangkannya.
Ki Hoon tidak menjawab. Ia melepas pelukan Hyo Seon dan berjalan menuju kamarnya.
Hyo Seon berdiri diam dengan terpukul, merasa ada sesuatu yang terjadi.

"Kau tidak mengatakan apapun pada Eun Jo, bukan?" tanya Jung Woo begitu melihat Ki Hoon masuk.
"Apa itu penting?" tanya Ki Hoon. "Kau tahu bahwa aku adalah bagian dari Perusahaan Hong, alasanku datang kemari, dan apa yang kulakukan pada paman. Walaupun begitu, hanya Eun Jo yang penting. Jika Eun Jo baik-baik saja, kau tidak keberatan berbagi kamar dengan orang sepertiku."
"Kau pikir aku mau?" tanya Jung Woo. "Kau mengatakan bahwa kau ingin mengembalikan perusahaan lagi pada paman. Aku percaya itu." Ia menarik napas dalam. "Kenapa kakak bisa menyukai orang sepertimu? Aku benar-benar tidak mengerti."
Keesokkan harinya, Ki Hoon mengajak Hyo Seon membeli beras.
Paman pensupply beras tidak bisa melihat ke arah Hyo Seon. Saat Ki Hoon menjelaskan, paman tersebut melihat ke arah berlawanan dengan mereka.
"Paman, melihatlah ke arahku." pinta Hyo Seon. "Aku tahu kau datang ke pemakaman ayah. Kenapa kau tidak menemuiku? Jika aku melihatmu, mungkin aku akan menangis karena kau mengingatkanku pada ayah."
Paman itu hanya diam dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sangat berterima kasih.. karena kau sudah datang." ujar Hyo Seon.
Paman itu menghapus air matanya dengan saputangan.
Setelah itu, Ki Hoon dan Hyo Seon makan bersama.
"Makanlah." kata Ki Hoon.
"Aku akan melakukan apapun yang kau katakan." kata Hyo Seon seraya memakan makanannya. "Kakak, kau tidak akan pergi kemana-mana bukan? Jika kau tidak pergi dan tetap disisiku, aku akan mencoba menjadi hebat seperti Eun Jo."
Ki Hoon diam, menatap Hyo Seon dan tersenyum tipis.
"Kau orang yang sangat baik, Hyo Seon." kata Ki Hoon. "Diantara kami semua, tidak ada orang sepertimu yang bisa menunjukkan hati yang tulus dan membuat mereka terkesan. Hanya kau yang bisa melakukannya."
Hyo Seon tertawa. "Kenapa kau seperti ini, Kakak?" tanyanya. "Aku cemas karena tiba-tiba mendapat pujian darimu. Aku gugup."
"Sesuatu darimu yang membuatku iri adalah bahwa... kau adalah orang yang sangat baik." kata Ki Hoon, tersenyum. "Percayalah."
"Kau bilang aku menunjukkan hatiku yang tulus, tapi kenapa kau tidak terkesan?" tanya Hyo Seon.
"Aku tahu." kata Ki Hoon. "Kau menyukaiku, percaya padaku.. Aku tahu itu. Aku berjanji padamu, apapun yang terjadi di masa depan, walaupun aku akan dihukum atau tidak dimaafkan selamanya aku tetap akan senang."
"Apa maksudmu?" tanya Hyo Seon, bingung.
"Aku sangat berterima kasih untuk hatimu, tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya."
Hyo Seon tersenyum. "Karena Eun Jo?"
"Bukan."
"Apa kau akan menolak Eun Jo juga?"
"Eun Jo... sudah menolakku." kata Ki Hoon.
"Jadi sekarang, kau menolakku?" tanya Hyo Seon. "Secara resmi?"
"Ya, secara resmi."
Hyo Seon mundur beberapa langkah dan menahan tangisnya. "Jadi sekarang, aku sudah tidak lagi memiliki seseorang untuk bersandar, tidak juga Eun Jo atau ibu atau kau."
"Kau akan berdiri dengan baik sendirian." kata Ki Hoon tenang. "Walaupun kau gemetar, tapi kau akan baik-baik saja."
Hyo Seon berbalik. Ia memegang dadanya yang terasa sakit karena menahan tangis.
Setelah Eun Jo dan Jung Woo menyerahkan uang, para pria penjahat membebaskan Jang Taek Geun. Jung Woo mengajak Jang makan, kemudian Eun Jo menyuruh Jung Woo menunggu sementara ia dan Jang pergi ke suatu tempat berdua.

Di rumah, Kang Sook menggeledah semua tempat untuk mencari jurnal tahun terakhir milik Dae Sung.
Eun Jo membawa Jang ke pinggir sungai.
Setelah mereka keluar dari mobil, Eun Jo berlutut di hadapan Jang. "Tolong selamatkan aku, Paman." katanya. "Kurasa aku akan mati. Aku hanya hidup karena tidak bisa mati. Aku... aku... aku adalah putri Song Kang Sook, Eun Jo. Putri seorang wanita murahan, Eun Jo. Saat kau mabuk, aku ingin membunuhmu. Aku sudah memegang pisau. Ketika kau mabuk dan memukuli ibuku..." Eun Jo meraih tangan Jang. "Tangan ini... Aku hampir memotong tangan ini. Seorang anak yang baru berumur 10 tahun sudah berniat memotong sebuah tangan. Setiap hari, aku membayangkan hal-hal mengerikan."
Jang terlihat takut.
Eun Jo bangkit dan memandang Jang. "Jika aku harus mengalami mimpi buruk itu lagi, lebih baik aku mati." katanya. "Paman... aku serius."
"Eun Jo.. aku menyesal..."
"Diam, Paman." potong Eun Jo. "Kau tidak menyesal. Jika kau menyesal, kau tidak akan melakukan ini. Kau mengatakan maaf tapi terus mengulang lagi dan lagi."
Jang takut dan tidak berani memandang Eun Jo.
"Paman, lihat aku." kata Eun Jo pelan. "Bisakah seseorang membunuh orang lain tanpa usaha? Aku akan menunjukkan padamu."
Eun Jo berjalan ke arah sungai dan masuk ke dalamnya.
"Berhenti!" teriak Jang, mengejar Eun Jo dan menariknya keluar.
Eun Jo berteriak-teriak histeris. "Lepaskan aku! Lepaskan!"
Jang menggendong Eun Jo dengan paksa dan membawanya ke atas.
Eun Jo menangis dan berteriak-teriak.
Setelah mencari-cari, akhirnya Kang Sook berhasil menemukan jurnal terakhir Dae Sung.
"Aku hanya bisa melihat wanita itu menjadi rapuh." kata Dae Sung dalam jurnalnya. "Kebohongan yang selalu diulanginya semuanya adalah salahku. Ia datang dan tersenyum padaku setelah bertemu dengan kekasihnya yang sebelumnya. Rasa marah, kecewa, dan sedih selalu datang dan pergi padaku. Aku ingin bertanya padanya kenapa ia bersikap seperti itu. Tapi orang bodoh ini tidak bisa mengatakan apa-apa karena ia hanyalah seorang pengecut. Jika aku sudah siap membuka mulut, aku takut kehidupanku selama 8 tahun hanya akan hilang sia-sia. Hal yang paling kutakutkan adalah... jika aku harus melanjutkan hidup tanpanya."
Kang Sook duduk di dalam kamarnya dan memandang foto pernikahannya dengan Dae Sung. Ia menangis keras penuh penyesalan.